Jumat, 12 Oktober 2012

Sukses & Arogansi

Sukses dan ArogansiSeorang CEO dari perusahaan Fortune 100 mengatakan, “Success can lead to arrogance. When we are arrogant, we quit listening. When we quit listening, we stop changing. In today’s rapidly moving world, if we quit changing, we will ultimately fail.” (Sukses bisa membuat kita jadi arogan. Saat kita arogan, kita berhenti mendengarkan. Ketika kita berhenti mendengarkan, kita berhenti berubah. Dan di dunia yang terus berubah dengan begitu cepatnya seperti sekarang, kalau kita berhenti berubah, maka kita akan gagal).
Itulah sisi negatif dari kesuksesan, yakni arogansi. Arogansi muncul saat seseorang merasa diri paling hebat, paling luar biasa, dan paling baik dibandingkan dengan yang lainnya. Penyakit mental ini bisa menjangkiti apa dan siapa saja, mulai dari organisasi, produk, pemimpin, sampai orang biasa. Khusus pada tulisan ini, kita akan membicarakan soal manusianya.
Orang sukses lalu bersombong ria sebenarnya patut disayangkan. Bayangkan saja, saat berjuang keras menggapai kesuksesan, mereka begitu terbuka untuk belajar. Mereka mau mendengarkan. Mereka mau berjerih payah, berani hidup susah, dan mengorbankan diri. Bahkan, mereka tampak sangat ‘merakyat’ hidupnya. Akan tetapi, itu dulu. Sayang sekali, saat kesuksesan datang, mereka lupa diri. Mungkin dia akan berkata, “Saya sudah berhasil mencapai yang terbaik. Sekarang, Andalah yang harus mendengarkan saya. Saya tidak perlu lagi mendengarkan Anda.” Hal itu diperparah lagi ketika mereka dikelilingi oleh para ‘yes man’ yang tidak berani angkat bicara soal kekurangan orang ini. Hal ini membuat orang itu semakin ‘megalomania’ , pongah, angkuh, dan egois. Ia terbelenggu oleh kesuksesannya sendiri. Ia tidak pernah belajar lagi.
Ada Seorang Pebisnis, dia menceritakan susah payahnya membangun bisnisnya. Cerita yang mengharukan sekaligus heroik ketika dia harus tidur di kolong jembatan saat tiba di Jakarta ketika remaja. Dengan susah payah dia merangkak dari bawah untuk bertahan hidup. Menikah tanpa uang sepeser pun. Hidup di rumah kontrakan kecil. Akan tetapi, dia tidak patah arang. Dia mengamati cara kerja orang sukses, mencontoh, dan memodifikasi sendiri produknya. Sekarang, dia pun berjaya. Tiga pabrik besar ada di genggamannya.
Namun, sayang sekali. Perusahan itu sedang diterpa badai masalah internal. Pemicunya tak lain adalah sikap pemimpin yang arogan. Dia otoriter dan antikritik. “Kalau saya bisa, kalian juga harus bisa,” katanya pongah. Dia pun menolak ide-ide baru. Dia mengelola perusahaan dengan serampangan. Turn over karyawan pun tinggi. Sisanya hanya kelompok para ‘penjilat’ yang tidak berani melawan. Dia menginginkan anak buahnya di-training. Padahal, dia sendiri yang perlu up date diri dengan training.
Arogansi bisa menghampiri siapa saja. Termasuk seorang pendidik, guru, dosen, yang tiap hari memberi suatu bagi orang lain.
Dari situ, kita belajar banyak untuk hati-hati. Kesuksesan jangan membuat kita arogan dan cenderung self centered serta tidak mau mendengarkan orang lain. Dunia begitu mengenal sosok Mao, Hitler, ataupun Stalin. Mereka berjuang dari basis bawah menuju pucuk kepemimpinan. Mereka pun berjuang untuk perubahan di masyarakatnya. Idealisme mereka sangat luar biasa. Orang pun dibuatnya kagum. Namun, mereka lupa daratan ketika sukses. Mereka memonopoli kebenaran tunggal alias antikritik dan antipembaruan. Mereka memimpin dengan tangan besi. Korban pun bergelimpangan dari tangannya. Begitu juga dalam sejarah bisnis. IBM yang begitu besar dan terkenal pernah mengalami kemerosotan saat arogansi membekap sikap dan pikiran para pemimpin mereka.
Terjebak retorika
Namun, itulah yang terjadi apabila orang berhenti belajar dan merasa diri sudah selesai. Tanpa dia sadari, lingkungannya terus belajar, berinovasi, dan berkembang. Sementara, dia mandek di posisinya. Akibatnya, kue kesuksesan yang dia peroleh lama-kelamaan menjadi basi. Tanpa sadar, kompetitor mereka bergerak jauh meninggalkan dirinya di belakang. Mereka terjebak dalam retorika, kalimat, jurus yang itu-itu saja alias usang. Arogansi telah menutup hati dan pikirannya untuk kreatif menemukan jurus dan tip-tip baru mempertahankan sekaligus mengembangkan kesuksesannya. Di sinilah, arogansi berujung pada malapetaka dan kehancuran.
Jadi, bagaimanakah tipnya agar kesuksesan kita tidak berubah menjadi arogansi?
Pertama- Aware (sadar) dengan sikap dan tingkah laku kita selalu. Meskipun sudah sukses, kita perlu memberi waktu untuk menyadari sikap dan perilaku kita di mata orang lain. Selalulah sadar apakah nada dan ucapan serta tindak tanduk kita sekarang semakin membuat banyak orang lain terluka? Apakah kita masih tetap menghargai orang lain? Apalagi orang-orang yang telah turut membawa Anda ke level sukses sekarang, apakah Anda hargai? Jangan sampai, tatkala masih bersusah payah, kita begitu respek, tetapi setelah sukses justru mencampakkan mereka.
Kedua- Waspadai umpan balik yang hanya menghibur kita tetapi tidak membuat kita belajar lagi. Hati-hati dengan orang di sekeliling kita yang hanya mengatakan hal bagus, tetapi tidak berani memberikan masukan yang baik. Kadang, masukan negatif juga kita perlukan demi perkembangan, sesukses apa pun kita.
Ketiga- Awasi dan peka dengan perubahan yang terjadi. Dalam buku Who Moved My Cheese disimpulkan bahwa kita harus selalu mencium keju kita, apakah sudah basi ataukah mulai diambil orang lain. Kita pun harus terus mencium dan peka bagaimana orang lain mengembangkan dirinya serta bisa jadi ancaman bagi kita. Jangan pula merasa diri paling hebat dan lupa belajar.
Keempat- Sopan dan rendah hati untuk belajar dari orang lain.
Semoga tulisan ini menginspirasi Anda untuk meraih sukses sejati. Kesuksesan yang membuat Anda tidak arogan. Baiknya kita tutup tulisan ini dengan kalimat kuno yang seringkali sudah kita dengar. “Di atas langit masih ada langit yang lain”.

note
Artikel yang sangat tidak terduga dan mengingatkan kita akan realita di sekeliling kita yang jarang bahkan mungkin belum terjamah sebelumnya. Sebuah sudut pemikiran yang jarang terpaparkan. Nilai-nilai filosofi yang kuat dan seharusnya mudah mengakar bagi kita jika kita renungi baik-baik. Begitulah menurut saya tentang artikel ini. Terima kasih kepada penulis karena saya bisa menemukan tulisan berharga ini.
Kesuksesan seharusnya mengingatkan kita bahwa kita bisa sampai di sana karena kita belajar keras untuk itu dan melewati berbagai rintangan yang mungkin sangat berat. Janganlah sikap arogansi menjadikan kita berhenti belajar yang seharusnya bisa membuat kita lebih sukses lagi. Kesuksesan yang kita raih dengan susah payah tersebut harusnya menyadarkan kita bahwa ia bisa lahir dari kondisi awal apapun bahkan lahir dari kondisi yang terburuk dan bagaimana mungkin kita bisa meremehkan orang-orang sekitar kita yang kita anggap rendah padahal mereka bisa saja memiliki sesuatu yang bisa sangat bermanfaat bagi kita? Apakah kita harus menunggu mereka sukses terlebih dahulu agar kita bisa ikhlas menghargainya? Bukahkan kita juga pada awalnya seperti mereka dan melahirkan sesuatu yang luar biasa sehingga kita bisa meraih sukses karenanya?
Kesuksesan seharusnya menjadi sangat lebih berharga ketika kita bisa menularkannya kepada orang lain. Janganlah sikap arogansi menjadikan kita memagari diri dari lingkungan yang seharusnya kita bimbing untuk mengikuti jejak kesuksesan kita. Bukankah manusia lebih berharga ketika ia menjadi sangat berguna bagi orang lain?
Jika motivasi sukses hanya karena ingin dihargai dan dipuja rasanya terlalu dangkal karena ketika kita memperolehnya kita hanya mendapatkan sisi itu. Dan ketika kita jatuh kembali maka itu sangatlah menyakitkan..dan orang tidak akan lagi menghargai kita.
Akan tetapi, Jika motivasi sukses karena ingin berbuat yang terbaik bagi diri kita dan dengan ikhlas berbuat lebih banyak untuk orang lain karena kita ingin orang lain mendapatkan kehidupan yang lebih baik seperti kita maka kita memperoleh penghargaan dan kekaguman yang sangat luar biasa dan akan banyak yang mengikuti kita. Dan ketika kita jatuh kembali maka itu tidaklah terlalu menyakitkan, bahkan mungkin kesempatan bagi orang lain memperlakukan kita dengan cara yang sama ketika kita memperlakukan mereka ketika kita berada di puncak kesuksesan kita (meskipun kita tidak berniat untuk mendapatkan balasan tentunya karena kita harus ikhlas). Yang jelas kita bersyukur bahwa kita pernah memberikan sesuatu yang terbaik bagi dunia. Dan lebih bersyukur lagi jika orang lain yang mengikuti sikap kita juga memberikan kontibusi yang luar biasa bagi dunia..bayangkan jika orang lain tersebut menerapkannya juga kepada orang lain..orang sukses yang melahirkan orang sukses dan melahirkan orang sukses berikutnya..dan seterusnya..hmmm sangat luar biasa kan (bisa dianalogikan seperti konsep Multi Level Marketing)?

sumber : emotivasi.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar