Tampilkan postingan dengan label kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kehidupan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Oktober 2012

Masalah Adalah Hadiah

Masalah adalah hadiahOptimisme adalah memandang hidup ini sebagai persembahan terbaik. Tidak ada sesuatu yang terjadi begitu saja dan mengalir sia-sia. Pasti ada tujuan. Pasti ada maksud. Mungkin anda pernah mengalami pengalaman buruk yang tak menyenangkan, maka keburukan itu hanya karena anda melihat dari salah satu sudut mata yg berkaitan dengan uang saja.
Bila anda berani menengok ke sisi yang lain, anda akan menemukan pemandangan yang jauh berbeda. Anda tidak harus menjadi orang yang tersenyum terus atau menampakkan wajah yang ceria.
Optimisme terletak di dalam hati, bukan hanya terpampang di muka. Jadilah optimis, karena hidup ini terlalu rumit untuk dipandang dengan mengerutkan alis dan muka.
Setiap tetes air yang keluar dari mata air tahu mereka mengalir menuju ke laut. Meskipun melalui anak sungai, belokan, kawasan kali keruh, danau dan muara, mereka yakin perjalanan mereka bukan tanpa tujuan. Bahkan, ketika menunggu di muara, setiap tetes air tahu, suatu saat panas dan angin akan membawa mereka ke puncak-puncak gunung. Menjadi awan dan menurunkan hujan. Sebagian menyuburkan rumput, sebagian tertampung dalam sumur-sumur atau telaga. Sebagian kembali ke laut. Adakah sesuatu yang sia-sia dari setiap tetes air yang anda temui?
Masalah Adalah Hadiah.
Bila anda menganggap masalah sebagai beban, anda mungkin akan menghindarinya atau menjauhinya. Bila anda menganggap masalah sebagai halangan, anda mungkin akan menghadapinya. Namun, masalah adalah hadiah yang dapat anda terima dengan suka cita. Dengan pandangan tajam, anda melihat kejayaan di balik setiap masalah.
Masalah adalah anak tangga menuju kekuatan yang lebih tinggi. Maka, hadapi dan ubahlah menjadi kekuatan untuk kesuksesan anda. Tanpa masalah, anda tak layak memasuki jalur kesuksesan. Bahkan hidup ini pun masalah, karena itu terimalah sebagai hadiah.
Hadiah terbesar yang dapat diberikan oleh induk elang pada anak-anaknya bukanlah serpihan-serpihan makanan pagi. Bukan pula, dekapan hangat di malam-malam yang dingin. Namun, ketika mereka melempar anak-anak elang itu dari tempat yang tinggi.
Detik pertama anak-anak elang itu menganggap induk mereka sungguh keterlaluan, menjerit ketakutan, matilah aku. Beberapa saat kemudian, bukan kematian yang mereka terima, namun kesejatian diri sebagai seekor elang, yaitu terbang. Bila anda tidak berani mengatasi masalah, anda tidak akan menjadi seseorang yang sejati.

http://www.emotivasi.com/

Sabtu, 25 Agustus 2012

Tersenyum Manis Menyikapi Kehidupan

ikut dengan ibunya yang lagi berbelanja, seorang bocah kecil yang manis selalu mengumbar senyum kepada siapapun yang memandangnya .. tak terkecuali kepada pemilik toko, saat ibunya hendak menyelesaikan pembayaran belanjaannya ..

.. senyum manis itu, telah membuat si pemilik toko jatuh hati kepada bocah kecil ini .. diambilnya mangkuk besar yang berisi permen .. dan diapun berjongkok di dekat bocah kecil itu, sembari berkata .. "Sini sayang, ambillah permen ini untukmu" .. bocah kecil itupun cuma menggelengkan kepala, merapat ke kaki ibunya, dan tetap tersenyum memandang sang pemilik toko ..

.. ibunyapun melihat hal itu, dan mendorong si bocah kecil untuk maju mengambil permen sembari berkata .. "ambillah nak, dan jangan lupa bilang terima kasih" .. anak itupun cuma sebentar memandang ibu
nya, menggelengkan kepalanya, dan kembali tersenyum kepada ibunya dan kepada pemilik toko itu ..

.. melihat itu, sang pemilik tokopun memasukkan tangannya ke dalam mangkuk besar itu, mengambil segenggam permen dan memberikannya kepada si bocah kecil itu .. bocah kecil itupun berkata "terima kasih" .. lalu tersenyum sangat manis sembari menerima permen-permen itu dengan kedua tangannya .. bahkan beberapa permen itu sampai terjatuh saking penuhnya tangan-tangan kecil sang bocah dengan permen .. ibunyapun mengambil dan membantunya memasukkan semua permen-permen itu ke dalam kantong jacket kecilnya ..

saat di dalam mobil, dalam perjalanan pulang ke rumah, ibunyapun bertanya .. "nak, kenapa kau malu2 saat pemilik toko menawarkan permen kepadamu?" .. dan bocah kecil itupun menjawab "mama, tanganku terlalu kecil untuk mengambil permen2 itu .. kalo oom penjual itu yang ambilkan tentu lebih banyak yang bisa kudapat"

beberapa tahun yang lalu, aku membaca kisah ini .. siang ini, aku baru teringat kembali dan menyadari bahwa .. "kita hanya akan dapat sedikit dengan cara mengambil pakai tangan sendiri, tapi sering lupa bahwa DIA selalu memberikan lebih dari cukup bila kita tetap percaya, bersabar, dan selalu tersenyum manis menyikapi kehidupan"

diambil dari catatan Mas Ifan Winarno